
Foto: Pesawat Gabus Telok Abang.
Seputar Indonesia Today 13/8/26 — Memasuki bulan Agustus, wajah sejumlah pasar tradisional di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mulai berubah. Di antara hiruk-pikuk pedagang dan pembeli, warna merah, putih, serta bentuk-bentuk pesawat dan kapal dari gabus mulai menarik perhatian.
Salah satu yang paling khas adalah telok abang, tradisi masyarakat Palembang yang hadir menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus. Telur rebus yang dicat merah ditempatkan di atas miniatur pesawat atau kapal yang dibuat dari gabus. Bagi sebagian warga, kemunculannya menjadi penanda bahwa suasana perayaan kemerdekaan telah tiba.
Di Pasar 26 Ilir dan Pasar 16 Ilir, misalnya, pedagang telok abang dapat ditemui menjajakan berbagai bentuk miniatur tersebut. Pesawat-pesawat gabus berukuran kecil hingga besar dipajang bersama kapal dan bentuk kendaraan lainnya. Hiasannya dibuat semarak dengan kertas warna-warni, ornamen, serta bendera Merah Putih.
Di tengah lalu-lalang warga yang berbelanja, keberadaan mainan tradisional itu menciptakan pemandangan tersendiri. Anak-anak biasanya menjadi pembeli yang paling tertarik. Mereka memilih bentuk dan warna pesawat atau kapal yang disukai, sementara orang tua mengenang kembali mainan yang pernah mereka temui ketika masih kecil.
Bagi pedagang, momentum menjelang 17 Agustus menjadi kesempatan untuk memperoleh tambahan penghasilan. Penjualan telok abang bersifat musiman karena permintaannya meningkat terutama ketika mendekati hari kemerdekaan. Sejumlah pedagang bahkan menyiapkan stok sejak jauh hari untuk memenuhi permintaan masyarakat.
Telok abang sendiri memiliki bentuk yang sederhana. Telur ayam direbus kemudian diberi warna merah. Telur tersebut selanjutnya dipasang pada miniatur yang dibuat dari gabus. Dalam perkembangannya, bentuk telok abang semakin beragam. Selain kapal yang lekat dengan identitas Palembang sebagai kota sungai, bentuk pesawat juga menjadi salah satu yang banyak diminati.
Bukan Sekadar Mainan
Di balik bentuknya yang sederhana, telok abang menyimpan cerita mengenai hubungan masyarakat Palembang dengan tradisi. Mainan tersebut menjadi salah satu cara masyarakat memeriahkan hari kemerdekaan sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada anak-anak.
Warna merah pada telur dan Merah Putih yang menghiasi miniatur membuat telok abang memiliki suasana yang sangat erat dengan perayaan 17 Agustus. Di tangan anak-anak, pesawat gabus itu bukan hanya mainan, tetapi juga bagian dari kemeriahan menyambut hari kemerdekaan.
Tradisi tersebut juga memperlihatkan kreativitas para perajin. Potongan gabus yang awalnya merupakan bahan sederhana dapat diubah menjadi bentuk pesawat atau kapal yang menarik. Setelah dirangkai dan dihias, miniatur tersebut kemudian dipasarkan di sejumlah tempat, termasuk pasar-pasar tradisional di Palembang.
Namun, mempertahankan tradisi telok abang bukan tanpa tantangan. Perubahan zaman membuat anak-anak kini memiliki banyak pilihan permainan. Mainan modern dan produk yang diproduksi secara massal menjadi pesaing bagi kerajinan tradisional yang pembuatannya masih mengandalkan keterampilan tangan.
Jumlah perajin yang terbatas juga menjadi persoalan tersendiri. Jika tidak ada generasi yang melanjutkan keterampilan membuat telok abang, bukan tidak mungkin tradisi yang telah lama dikenal masyarakat Palembang tersebut semakin sulit ditemukan.
Karena itu, keberadaan pedagang telok abang di Pasar 26 Ilir dan Pasar 16 Ilir memiliki arti lebih dari sekadar aktivitas jual beli musiman. Lapak-lapak sederhana yang dipenuhi pesawat dan kapal gabus tersebut menjadi ruang bertemunya tradisi dengan kehidupan ekonomi masyarakat.
Setiap Agustus, ketika pesawat-pesawat gabus kembali memenuhi sudut pasar, masyarakat seolah diajak melihat kembali sebuah bagian kecil dari sejarah budaya Palembang. Tradisi itu bertahan bukan karena kemewahan, melainkan karena kesederhanaannya masih mampu menghadirkan kegembiraan.
Di tengah perubahan Kota Palembang yang terus berkembang, telok abang tetap menemukan tempatnya. Dari tangan perajin, menuju lapak pedagang, kemudian dibawa pulang oleh anak-anak, tradisi tersebut terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pesawat gabus dengan telok abang pada akhirnya bukan sekadar benda yang dijual menjelang 17 Agustus. Ia adalah simbol bagaimana masyarakat Palembang merayakan kemerdekaan dengan cara yang sederhana, kreatif, dan tetap berakar pada tradisi lokal. (Risanto-Red).

