Kota yang Terang, Nasib yang Gelap: Jeritan Sunyi Kaum Tunanetra di Palembang

Spread the love

Foto: Penyandang Tuna Netra Sedang Khusyuk Berdoa

SindoToday 18/5/26. (Opini).

Di tengah gemerlap lampu Kota Palembang yang semakin bercahaya, ada sekelompok masyarakat yang hidup dalam gelap yang sesungguhnya. Mereka adalah kaum disabilitas tunanetra — warga kota yang setiap hari berjuang bukan hanya melawan keterbatasan penglihatan, tetapi juga melawan kerasnya ketidakadilan sosial yang seakan tidak pernah selesai. Di saat sebagian orang sibuk berbicara tentang kemajuan kota, modernisasi, dan pembangunan ekonomi, masih ada mereka yang harus bertahan hidup dengan cara yang memilukan: berjalan tertatih mencari sesuap nasi di tengah kota yang seolah tidak pernah benar-benar menganggap mereka ada.

Palembang terus tumbuh menjadi kota metropolitan. Gedung-gedung menjulang tinggi, pusat perbelanjaan semakin ramai, jalan-jalan besar diperlebar, dan pembangunan dipamerkan sebagai simbol kemajuan. Namun di balik semua itu, ada kenyataan pahit yang jarang dibicarakan. Di sudut-sudut jalan, di lorong-lorong kecil, bahkan di bawah terik matahari yang menyengat, banyak penyandang tunanetra hidup dalam ketidakpastian ekonomi yang menyayat hati.

Sebagian dari mereka menghabiskan hari dengan menjadi tukang pijat keliling, menjual tisu di lampu merah, bernyanyi di angkutan umum, atau sekadar berharap ada tangan yang berbaik hati memberi uang receh. Bukan karena mereka malas bekerja, bukan karena mereka tidak memiliki mimpi, melainkan karena ruang hidup mereka telah lama dipersempit oleh sistem yang tidak berpihak.

Betapa ironisnya sebuah kota yang terus berbicara tentang kemajuan, tetapi masih membiarkan kelompok rentan hidup di pinggir harapan. Kaum tunanetra seolah dipaksa menerima nasib bahwa kemiskinan adalah takdir yang harus mereka jalani. Padahal sesungguhnya, kemiskinan itu bukan lahir dari kebutaan mereka, melainkan dari kebutaan sosial masyarakat dan pemerintah yang gagal melihat penderitaan mereka.

Setiap hari, mereka harus menghadapi dunia yang tidak ramah. Trotoar yang rusak dan tidak memiliki jalur pemandu menjadi ancaman. Transportasi umum belum sepenuhnya aksesibel. Informasi pekerjaan sulit dijangkau. Bahkan teknologi yang seharusnya memudahkan hidup justru sering menjadi tembok baru karena minimnya fasilitas ramah disabilitas.

Lebih menyakitkan lagi, diskriminasi sosial masih begitu kuat terasa. Tidak sedikit perusahaan yang diam-diam menolak penyandang tunanetra hanya karena menganggap mereka tidak produktif. Banyak orang masih memandang mereka dengan rasa iba berlebihan, seolah mereka hanyalah objek belas kasihan, bukan manusia yang memiliki kemampuan, cita-cita, dan harga diri.

Padahal, di balik keterbatasan penglihatan itu, ada semangat hidup yang luar biasa besar. Banyak penyandang tunanetra memiliki kecerdasan, keterampilan, dan tekad yang kuat untuk mandiri. Mereka ingin bekerja, ingin dihargai, ingin hidup layak seperti manusia lainnya. Namun kesempatan itu sering tertutup bahkan sebelum mereka mencoba.

Bayangkan bagaimana rasanya hidup setiap hari dengan ketidakpastian. Ketika pagi datang bukan dengan harapan, melainkan dengan pertanyaan: “Hari ini bisa makan atau tidak?” Bayangkan bagaimana seorang tunanetra harus berjalan di tengah hiruk-pikuk kota tanpa kepastian keselamatan, sambil memikirkan bagaimana membayar kontrakan, membeli beras, atau sekadar memenuhi kebutuhan keluarga.

Kemiskinan bagi kaum tunanetra bukan sekadar angka statistik. Ia adalah rasa takut yang terus menghantui. Ia adalah lapar yang harus ditahan. Ia adalah air mata yang jatuh diam-diam ketika dunia terasa terlalu kejam. Dan yang paling menyakitkan, semua itu sering terjadi dalam kesunyian, tanpa benar-benar didengar.

Pemerintah daerah seharusnya tidak cukup hanya membuat slogan tentang kota inklusif. Inklusivitas bukan sekadar tulisan di baliho atau pidato seremonial. Inklusivitas harus hadir dalam kebijakan nyata: membuka lapangan kerja yang setara, memberikan pelatihan keterampilan modern, menyediakan akses pendidikan yang layak, serta memastikan fasilitas umum benar-benar ramah bagi penyandang disabilitas.

Dunia usaha pun harus berhenti melihat tunanetra sebagai beban. Sudah terlalu lama penyandang disabilitas ditempatkan di posisi paling bawah dalam dunia kerja. Padahal di banyak negara maju, kaum disabilitas diberi ruang untuk berkembang melalui teknologi dan sistem kerja yang adaptif. Mengapa di Palembang hal itu masih terasa seperti mimpi yang jauh?

Masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral. Selama ini, rasa peduli sering hanya hadir dalam bentuk sedekah sesaat. Padahal yang lebih dibutuhkan kaum tunanetra adalah penghormatan atas hak hidup mereka. Mereka tidak membutuhkan dikasihani sepanjang waktu. Mereka membutuhkan kesempatan untuk berdiri sejajar.

Kita harus jujur mengakui bahwa kota ini belum sepenuhnya adil. Sebab ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya dilihat dari megahnya bangunan atau tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi dari bagaimana kota itu memperlakukan warga yang paling lemah dan rentan.

Jika kaum tunanetra masih harus mengemis kesempatan hidup di tanah kelahirannya sendiri, maka sesungguhnya ada yang gagal dalam pembangunan kita. Jika mereka masih kesulitan mencari pekerjaan hanya karena kondisi fisik mereka, maka sesungguhnya yang cacat bukan tubuh mereka, melainkan cara pandang sosial kita.

Sudah waktunya Palembang membuka mata. Sudah waktunya pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat berhenti menutup hati terhadap penderitaan yang nyata terjadi di depan mata. Karena selama masih ada warga yang hidup dalam gelap kemiskinan dan ketidakadilan, maka cahaya kemajuan kota ini belum benar-benar menyala untuk semua. (rahmi).

Penulis: Rahmi Novianti,S.Sos.,M.Si merupakan akademisi dan tenaga pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Palembang. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *